Kisah Nabi Yusuf dan Zulaikhah

Belajar dari Kisah Nabi Yusuf dan Zulaikhah

Posted on

Kisah Nabi Yusuf dan Zulaikhah

Khutbah I

اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وعلى اله وأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أما بعد: فيايها الإخوان، أوصيكم و نفسي بتقوى الله وطاعته لعلكم تفلحون، قال الله تعالى في القران الكريم: أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمان الرحيم: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
صدق الله

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abi Hurairah radliyallahu anh bahwa kelak pada hari Kiamat Allah SWT akan memberikan perlindungan kepada tujuh (golongan) orang. Salah satunya adalah golongan laki-laki  yang ketika  diajak berbuat maksiat oleh seorang perempuan terhormat dan  cantik, dia menolaknya sebagaimana disebutkan dalam cuplikan hadits berikut:

وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ الله
Artinya: “Seorang laki-laki yang diajak berzina oleh wanita yang cantik dan terpandang lalu menolaknya dengan mengatakan: ”Aku takut kepada Allah”

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Apabila ada seorang laki-laki seperti digambarkan dalam hadits tersebut, pastilah ia adalah seorang laki-laki yang luar biasa. Disebut luar biasa sebab pasti ia memiliki kelebihan-kelebihan tertentu. Secara fisik, pastilah ia sangat menarik sehingga seorang perempuan yang memiliki kedudukan dan berwajah cantik pun merasa tergiur dengan ketampanan dan kegagahannya. Tetapi dengan kuatnya iman di dada laki-laki itu, ia menolak ajakan tersebut karena merasa takut kepada Allah SWT.

Apa yang digambarkan dalam hadits itu, mengingatkan kita kepada kisah Yusuf  yang kelak menjadi seorang nabi dan rasul. Waktu itu Yusuf  masih muda belia  dimana beliau digoda oleh Zulaikhah, istri Kepala Kepolisian Negara Mesir pada jaman itu. Sebagai istri pejabat, Zulaikhah tidak saja terhormat dan berharta tetapi juga sangat cantik. Ia sanggup memberikan apa saja kepada Nabi Yusuf dengan segala kelebihan, kewenangan dan fasilitas yang dimilikinya. Namun demikian, meskipun posisi Yusuf cukup lemah karena statusnya sebagai pembantu rumah tangga bagi keluarga Zulaikhah,  beliau sanggup dan mampu menolak godaan-godaan dari sang  majikan itu hingga akhirnya  selamat dari jebakan kemaksiatan karena senantiasa ingat kepada Allah SWT.

Penolakan Nabi Yusuf atas ajakan Zulaikhah untuk melakukan perzinaan di atas diungkapkan oleh Zulaikhah sebagaimana dapat kita temukan dalam Al Qur’an Surah Yusuf, ayat 32:

وَلَقَدْ رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ فَاسْتَعْصَمَ
Artinya: “Dan sesungguhnya aku (Zulaikhah)  telah menggoda dia (Yusuf)untuk aku tundukkan dirinya, akan tetapi dia menolakku.”

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Kisah penolakan Nabi Yusuf atas ajakan Zulaikhah untuk berselingkuh dapat dijadikan pelajaran berharga dalam kehidupan sehari-hari. Dalam masyarakat kita sekarang dimana nilai-nilai moral dan ketaatan kepada Allah SWT terus mengalami penurunan, perselingkuhan semakin sering terjadi di mana-mana seiring dengan meningkatnya kemajuan dalam segala bidang. Terlebih sekarang dimana kemajuan teknologi informasi dan komunikasi memberikan kemudahan-kemudahan yang luar biasa kepada semua orang. Maka kesadaran kita untuk selalu waspada terhadap godaan-godaan perselingkuhan harus terus ditingkatkan.

Namun dalam kasus Nabi Yusuf dan Zulaikhah tersebut, ajakan perselingkuhan barangkali tidak ada kaitannya dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Ajakan itu lebih disebabkan karena mereka hidup dalam satu rumah dimana kedudukan Zulaikah di rumah itu lebih tinggi, yakni sebagai istri majikan yang bernama Tuan Futhifar. Sebagai majikan, Zulaikhah tentu sering berinteraksi dengan Nabi Yusuf dalam kehidupan sehari-hari di rumah itu. Kepribadian Nabi Yusuf yang sangat santun dengan wajah yang sangat tampan inilah  yang membuat hati Zulaikhah secara diam-diam jatuh hati padanya.

Ketika ada kesempatan untuk menggoda Nabi Yusuf, yakni ketika sang suami tak ada di rumah, Zulaikhah benar-benar tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya, lalu secara terbuka menggoda Nabi Yusuf. Beruntunglah dan selamatlah mereka berdua karena Nabi Yusuf menolak untuk berzina. Untuk menghindar dari godaan-godaan perzinaan, Nabi Yusuf kemudian berdoa kepada Allah SWT agar beliau dimasukkan  ke dalam penjara sebagaimana termaktub dalam Surah Yusuf, ayat 33:

َقالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ ۖ وَإِلا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ
Artinya: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.”

Setelah  berdoa seperti itu, Nabi Yusuf dipenjarakan atas perintah suami Zulaikhah meski beliau tidak bersalah. Tapi memang begitulah doa Nabi Yusuf kepada Allah agar dijauhkan dari Zulaikhah. Dengan dimasukkannya Nabi Yusuf  ke dalam penjara, maka terbentuklah opini publik bahwa dalam kasus percobaan perzinaan antara Zulaikhah dan Nabi Yusuf, Nabi Yusuflah yang bersalah.  Beliau tidak keberatan dengan opini publik seperti itu meski beliau jelas-jelas tidak bersalah. Bagi Nabi Yusuf menghindari perzinaan itu lebih penting dari pada sekedar mempertahankan nama baik beliau. Kesediaan beliau untuk dipenjara juga beliau maksudkan untuk menjaga nama baik dan kehormatan keluarga majikannya.  Beliau meyakini bagaimanapun Allah lebih tahu tentang hal yang sebenarnya terjadi.

Allah benar-benar mengabulkan doa Nabi Yusuf dengan memasukkannya ke dalam penjara sebagaimana dikisahkan dalam  Surah Yusuf, ayat 34:

فاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Artinya: “Maka Tuhannya memperkenankan do`a Yusuf dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Banyak hal bisa kita ambil pelajaran dari kasus Nabi Yusuf dan Zulaikhah ini.  Pertama,  setan akan selalu menggoda kepada laki-laki maupun perempuan untuk melakukan perzinaan. Maka sepatutnya kita berhati-hati dalam mempekerjakan seorang pembantu dalam keluarga kita. Sebaiknya kita pilih seorang pembantu, atau apalah namanya,  yang secara fisik tidak cukup menarik; bisa karena faktor usia yang sudah agak lanjut; atau faktor penampilan fisik yang tidak mempesona karena tidak cukup tampan ataupun cantik.  Seorang suami tidak sebaiknya mencarikan pembantu laki-laki yang cukup tampan bagi istrinya. Demikian pula tidak sebaiknya seorang istri mencarikan pembantu yang cukup cantik untuk suaminya. Semuanya itu untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan karena setan selalu menggoda manusia setiap saat.

Kedua, pihak yang mengawali dalam menggoda lawan jenis untuk melakukan perzinaan tidak selalu laki-laki. Bisa saja yang memulai menggoda adalah pihak perempuan sebagaimana Zulaikhah. Hal ini bisa terjadi karena pihak perempuan berada dalam posisi yang lebih kuat baik secara sosial maupun ekonomi. Dengan kata lain, seorang perempuan yang memiliki kedudukan  lebih tinggi   dari pada seorang laki-laki yang tampan dan muda serta berada dibawah kekuasaannya, akan  menghadapi kemungkinan lebih besar untuk tergoda. Maka kewaspadaan diri dengan selalu mengingat Allah SWT menjadi sangat penting sebagai benteng iman.

Kemaksiatan sesungguhnya tidak akan terjadi begitu saja tanpa adanya niat dan kesempatan untuk melakukannya. Jika niat ada, tetapi tidak ada kesempatan, maka suatu kemaksiatan sulit terlaksana. Sebaliknya,  jika kesempatan ada, tetapi tidak ada niat, maka suatu kemaksiatan juga sulit terjadi. Oleh karena itu, usaha kita untuk tidak menciptakan kesempatan demi menghindari terjadinya perzinaan dalam rumah tangga kita menjadi hal penting yang secara terus menerus harus selalu kita lakukan.

Dalam kaitan itu, para orang tua hendaknya juga memperhatikan kamar-kamar bagi anak-anaknya. Kamar bagi anak laki-laki dan anak perempuan harus terpisah dengan dilengkapi pintu yang cukup menjamin kenyamanan dan keamanan. Ini semua untuk menghidari terciptanya kesempatan terjadinya hal-hal yang tak diinginkan sebab setan selalu menggoda manusia kapan saja dan di mana saja.

Ketiga, terkait dengan hadits tersebut bahwa Allah SWT akan memberikan perlindungan di hari Kiamat kepada siapa saja  yang menolak berzina, maka  siapa pun, baik perempuan maupun laki-laki, yang menolak berzina sebagaimana Nabi Yusuf dengan alasan takut kepada Allah SWT, akan  mendapat perlindungan dari Allah SWT. Mereka dijamin keselamatan dan kenyamanannya oleh Allah SWT sebagaimana seorang pemimpin yang adil; seorang pemuda yang menyibukkan diri dengan ibadah kepada Allah SWT; seseorang yang hatinya selalu bergantung atau terikat  pada masjid; dua orang yang saling mencintai karena Allah SWT lalu berkumpul dan berpisah kerana Allah; orang-orang yang selalu ikhlas dalam bersedekah; dan seseorang yang ketika berdzikir kepada Allah dalam kesendiriannya selalu meneteskan air matanya.

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Semoga apa yang telah saya uraikan di atas dapat mengingatkan kita semua untuk selalu waspada terhadap kemungkinan adanya godaan-godaan perzinaan dalam lingkungan kita masing-masing.  Banyak kasus perzinaan terjadi di tengah-tengah masyarakat  karena kurangnya kewaspadaan dan lemahnya iman kepada Allah SWT. Maka iman dan kewaspadaan harus selalu kita jaga dan kita tingkatkan terus menerus agar kita mendapat keselamatan baik di dunia maupun di akherat. Amin… amin… ya rabbal alamain.

جَعَلَنا اللهُ وَإيَّاكم مِنَ الفَائِزِين الآمِنِين، وَأدْخَلَنَا وإِيَّاكم فِي زُمْرَةِ عِبَادِهِ المُؤْمِنِيْنَ : أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمن الرحيم: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ وذِكْرِ الحَكِيْمِ.  إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ


Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Source link

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *